Opini

Bandara Aryo Penangsang Ngloram sebagai pintu gerbang timur Jawa Tengah

Foto: Dokumen wartablora.com

Djati Walujastono.

Kamis, 03 Oktober 2019 18:42 WIB

Oleh : Djati Walujastono *)

DALAM era pembangunan seperti yang berlangsung saat ini di Indonesia, peran transportasi menjadi sangat penting terutama dalam sumbangsih pada peningkatan aktivitas ekonomi, integrasi nasional dan keseimbangan regional. Sebagai salah satu bandar udara yang dimiliki Provinsi Jawa Tengah, bandara penerbangan domestik ini direncanakan sebagai bandara pengumpan (spoke), yaitu bandar udara yang mempunyai cakupan pelayanan dan mempengaruhi perkembangan ekonomi terbatas.

Bandara udara Aryo Penangsang-Ngloram sebagai salah satu pintu gerbang utama sebelah timur Provinsi Jawa Tengah perlu dikembangkan melalui peningkatan fasilitas bandara agar dapat didarati oleh jenis pesawat yang lebih besar sehingga bisa mengangkut penumpang dan kargo yang akan menambah pendapatan anggaran daerah (PAD) Kabupaten Blora. Hal ini mengingat potensi ekonomi yang dimiliki Pemkab. Blora seperti sumber daya alam yang besar berupa kandungan minyak dan gas, kandungan mineral gypsum, gamping, pasir kuarsa, marmer onix, sirtu, kayu jati, kelor, sapi, serta potensi pertanian dan Pariwisata.

Sejak 26 Agustus 2019 Bandara Aryo Penangsang-Ngloram sudah resmi masuk dalam daftar Rencana Induk Nasional Bandar Udara. Sehingga secara tinjauan aspek hukum Bandara Aryo Penangsang-Ngloram sudah sah untuk dianggarkan dalam pembangunan dan pengembangan baik dengan anggaran APBN maupun APBD.

Tahun ini sudah akan melayani pesanan pesawat carter. Ada beberapa perusahaan yang berkeinginan untuk menggunakannya. Tapi Pemkab Blora harus menyediakan mobil pemadam kebakaran dan mobil ambulance selama 2 jam sebelum take off dan 30 menit setelah take off, demikian juga untuk landing-nya. Kementerian perhubungan sendiri belum menganggarkan pembelian mobil pemadam kebakaran dan mobil ambulance.

Bandara Aryo Penangsang-Ngloram dalam perencanaannya nanti adalah sebagai bandara simpul, gerbang ekonomi, alih moda transportasi, perindustrian dan perdagangan serta pariwisata, dan wawasan nusantara.

Sedangkan fungsinya bandara Aryo Penangsang-Ngloram adalah sebagai bandara pemerintahan dan pengusahaan. Untuk penggunaanya, bandara Aryo Penangsang-Ngloram merupakan bandara Dosmetik. Untuk hirarki, Bandara Aryo Penangsang-Ngloram adalah bandara pengumpan (spoke). Sementara untuk klasifikasi, Bandara Aryo Penangsang-Ngloram termasuk kelas 4C, di mana panjang runway-nya atau Aeroplane Reference Field Length (ARFL) adalah di atas 1800 m, sehingga bisa untuk pesawat Boeing atau Airbus.

Sebagai perbandingan dengan bandara-bandara di jawa tengah, bahwa bandara Aryo Panangsang-Ngloram masih dibawah Bandara Adi Soemarno (Boyolali, Solo) dan bandara Jendral Ahmad Yani (Semarang), tetapi diatas bandara Tunggul Wulung (Cilacap), Dewa Daru ( Karimunjawa, Jepara) dan Jendral Sudirman (Purbalingga).

Bandara udara Aryo Penangsang-Ngloram, Cepu Kabupaten Blora dan JB. Sudirman, Kabupaten Purbalingga merupakan bandara udara di Jawa Tengah yang sedang proses dibangun, dimana sebelumnya sudah ada bandara udara Internasional Adi Sumarno, Surakarta, Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang, Bandara udara Tunggu Wulung, Kabupaten Cilacap dan bandara udara Dewa Daru, Karimunjawa, Kabupaten Jepara.

Bandara udara Aryo Jipang-Ngloram awalnya secara geometrik runway 900 m x 30 m, taxiway 150 m x 23 m dan apron 60 m x 40 m, total tanah existing seluas 21,535 Ha.
Sedangkan untuk tahap I (2020) untuk kebutuhan fasilitas air side/sisi udara adalah runway 1400 m x 30 m, runway strip 1520 m x 90 m, Run End Safety Area (RESA) 60 m x 90 m, taxiway 150 m x 23m, apron 80 m x 60 m untuk 2 pesawat. Sedangkan pesawat terbesar sejenis ATR 72-600, Aerodrome Reference Code: 4C. Kategori operasi runway adalah non instrumen.

Sekarang ini atau tahun 2019 perpanjangan runway 300 m x 30 m, rekonstruksi runway, taxiway termasuk marking. Jadi untuk akhir tahun 2019 sudah bisa didarati pesawat carter sejenis Cesna CN-235 dan ATR 42.

Namun demikian, dengan runway 1200 m juga bisa didarati pesawat ATR 72 dengan beban terbatas, terutama cargo/bagasinya Restricted Take Off Weight (RTWO). Dimana runway adalah sebuah wilayah berbentuk persegi panjang pada permukaan tanah bandara yang disiapkan untuk pesawat take off/lepas landas dan landing/mendarat.

Runway strip adalah sebuah wilayah tertentu runway dan stopway. Bila tersedia yang ditujukan untuk: mengurangi risiko kerusakan bila pesawat meluncur keluar runway, melindungi pesawat yang terbang diatasnya saat beroperasi lepas landas atau pendaratan.

RESA adalah sebuah wilayah simetris dari perpanjangan garis tengah runway dan berdekatan dengan ujung Runway Strip, ditujukan terutama untuk mengurangi resiko kerusakan bila pesawat undershooting (mendarat sebelum mencapai Runway) atau Overrunning (mendarat melebihi Runway). Taxiway adalah suatu jalur tertentu di permukaan bandara yang dibangun untuk pesawat Taxiing (meluncur di Taxiway) dan ditujukan untuk menjadi penghubung antara satu bagian dan bagian lainnya di bandara.

Apron adalah suatu wilayah tertentu pada tanah bandar udara yang ditujukan untuk mengkamodasi pesawat untuk kepentingan menaikkan dan menurunkan penumpang, surat atau kargo, serta untuk mengisi bahan bakar, parkir dan perawatan pesawat. Aerodrome reference Code adalah merupakan gabungan code number ICAO (International Civil Aviation Organization) dan code letter ICAO. ***

*) Penulis lahir di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Merupakan Anggota Tim Reaktifasi Percepatan Pembangunan Bandara Aryo Penangsang-Ngloram; Staf Khusus Bupati Blora bidang IPTEK, Pemberdayaan Manusia, Penanggulangan Kemiskinan, dan Kearifan Lokal; Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Blora; Wakil Ketua Komunitas Sapi Indonesia (KSI) Jawa Tengah & Yogjakarta; Komisaris BUMD Perseroda PT. Blora Patra Energi (BPE); Ketua Dewan Pengawas BUMD Perumda Wira Usaha (WU); Dosen Teknik Mesin, Sekolah Tinggi Teknik Ronggolawe (STTR) Cepu; Pengajar Teknik Pemboran/Produksi Migas, SMK Migas Cepu