Tradisi baru pelantikan pejabat Blora: hari Rabu

Foto: Gatot Aribowo

Arief Rohman, Bupati Blora sempat berpaling ke wartawan sebelum memasuki Kantor Pimpinan DPRD Blora, Senin, 27 September 2021.

Kamis, 30 September 2021 11:31 WIB

BLORA (wartablora.com)—Bupati Blora Arief Rohman memunculkan tradisi baru dalam melantik pejabat-pejabatnya yang akan membantu tugas-tugasnya mengemban amanah rakyat. Jika bupati sebelumnya, Djoko Nugroho terbiasa melantik pejabatnya pada hari Jumat, Arief Rohman yang menjadi Bupati Blora sejak akhir Februari 2021 melantik pejabatnya hari Rabu. Bukan tanpa maksud jika Arief akan membiasakan hari Rabu dalam melantik pejabat-pejabatnya. Dalam tradisi pesantren, hari Rabu adalah hari untuk mengawali aktivitas.

"Out of the box lah," katanya pada Kamis, 30 September 2021.

Out of the box mengacu pada sesuatu yang keluar dari kebiasaan umum, atau berbeda pemikiran dari yang dipikirkan banyak orang. Kokok, panggilan Djoko Nugroho selama 10 tahun menjabat Bupati Blora menjadikan hari Jumat sebagai kebiasaan melantik pejabat. Kebiasaan ini mirip dengan kebiasaan Komisi Pemberantasan Korupsi yang menetapkan tersangkanya pada hari Jumat. Dalam Islam, hari Jumat adalah hari baik.

"Dalam tradisi pesantren, hari Rabu adalah hari untuk mengawali aktivitas. Kita ingin memulai aktivitas perubahan Blora," ujarnya.

Rabu, 29 September 2021, Arief melantik 305 pejabatnya yang terdiri 2 pejabat eselon II, 89 pejabat eselon III, dan 214 pejabat eselon IV. Seminggu sebelumnya, Rabu, 22 September 2021, Arief melantik 5 pejabatnya eselon II. Rabu berikutnya, bisa jadi 13 Oktober 2021 akan ada lagi pelantikan untuk pejabat eselon II yang menduduki jabatan-jabatan kunci perubahan. Ini jika mengacu pada ucapannya usai melantik 305 pejabatnya.

"(Eselon II berikutnya) kemungkinan pertengahan bulan (Oktober)," kata dia.

Selain tradisi hari baru dalam melantik pejabatnya, dia juga memunculkan kebiasaan berbeda dari pemerintahan bupati sebelumnya. Jika Kokok monoton hanya menjadikan pendapa rumah dinas bupati sebagai tempat pelantikan, Arief memilih tempat-tempat yang berbeda dalam melantik dan mengambil sumpah jabatan pejabatnya.

"Rencana (pelantikan eselon II yang berikutnya) di MPP. Kalau tidak ya di Kampung Samin," ungkapnya.

MPP adalah mal pelayanan publik. Simbolnya: pelayanan publik. Mereka, eselon II ini adalah komandannya pelayan publik. Menjadikan tempat pelayanan publik sebagai pengambilan sumpah, diharapkan mereka akan sepenuhnya sebagai pelayan publik. Sementara simbol di Kampung Samin adalah pelestarian adat.

Sebelumnya, Arief menjadikan TMP Wira Bhakti dalam mengambil sumpah jabatan 305 pejabatnya, dan menjadikan TPA Temurejo dalam mengambil sumpah jabatan 5 pejabatnya. TMP, taman makam pahlawan sebagai simbol perjuangan. TPA, tempat pemrosesan akhir sampah sebagai simbol bersih-bersih.