Kunjugan Menteri Desa, dari Sambong hingga Bangsri

Foto: Gatot Aribowo

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar (berbaju putih) ke Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, Sabtu (18/8/2021). Didamping istrinya yang di sebelah kanannya dan juga Bupati Blora Arief Rohman, Menteri berbincang dengan Kepala Desa Nglobo Pudik Harto.

Sabtu, 18 September 2021 17:00 WIB

BLORA (wartablora.com)—Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar melakukan kunjungan kerjanya ke Blora, Sabtu (18/9/2021). Dalam kunjungan kerja ini, Menteri mengunjungi 4 desa yang ada di Kabupaten Blora, yakni: Desa Sambongrejo di Kecamatan Sambong, Desa Nglobo di Kecamatan Jiken, dan Desa Palon serta Desa Bangri yang ada di Kecamatan Jepon. Di dampingi istri dan rombongannya, Menteri didampingi pula Bupati Blora Arief Rohman saat berkunjung ke desa-desa tersebut.

Kunjungan di awali saat perjalanan dari Cepu menuju Blora. Desa pertama yang dikunjungi adalah Desa Sambongrejo. Di sana Menteri melihat Kampung literasi dan adat Sedulur Sikep yang ada di desa tersebut. Selanjutnya Menteri meneruskan perjalanan kunjungannya ke Desa Nglobo. Di sini Menteri melihat industri pengolahan akar pohon jati. Selain itu Menteri juga menilik pemanfaatan limbah oleh Muhammad Ilham, warga desa tersebut yang turut dalam lomba teknologi tepat guna kategori pos pelayanan teknologi tepat guna desa berprestasi.

Usai berkunjung ke mereka berdua di Desa Nglobo, Menteri menyempatkan mampir ke pemandian Plumpung yang ada di desa tersebut, selain melihat-lihat di sumur minyak.

Dari Desa Nglobo, rombongan menteri yang diikuti pejabat-pejabat di Kabupaten Blora berkunjung di Desa Palon untuk melihat-lihat peternakan sapi, sebelum terakhir mengunjungi peternakan ikan lele, dan usaha sablon yang dikelola oleh BUMDes Bangsri.

"Karena pemulihan ekonomi nasional level desa, kunci utamanya di desa wisata dan yang kedua adalah berbagai usaha yang dilakukan oleh bumdes atau bumdesa bersama dengan catatan usaha yang dibangun oleh tidak boleh unit usaha yang sudah dilakukan oleh warga masyarakat," kata Abdul Halim Iskandar kepada wartawan setelah berkunjung ke desa-desa tersebut.

Ia juga berharap BUMDes bisa menjadi konsolidator usaha-usaha mikro kecil yang ada di masyarakat pedesaan, sehingga ke depannya BUMDes bisa mendorong kemajuan dari usaha-usaha mikro kecil.

"Misalnya UMKM yang digalakan masyarakat dikonsolodiasi oleh Bumdesa,  atau Bumdesa bersama. Terpenting adalah market atau pemasaran, lalu yang kedua: packaging, yakni dari pengolahan bahan sampai packaging," imbuhnya. ***