Rangkaian hari jadi Progata

Dari syukuran di Cepu hingga donor darah dan berbagi air bersih

Foto: wartablora.com

Syukuran hari jadi Paguyuban honorer guru dan tenaga kependidikan (Progata) Kabupaten Blora, 6 Oktober 2019, di BBS Cepu.

Senin, 07 Oktober 2019 23:00 WIB

BLORA (wartablora.com)—Genap satu tahun usia Paguyuban honorer guru dan tenaga kependidikan (Progata) Kabupaten Blora, 6 Oktober 2019. Rangkaian merayakan hari jadinya, berbagai kegiatan sebagai bentuk rasa syukur ribuan guru tidak tetap dilakukan sejak minggu ketiga dan keempat bulan September.

"Puncaknya kami berkumpul dengan perwakilan dan pengurus seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blora di Cepu, selain sebagai bentuk syukuran kami juga melakukan konsolidasi perjuangan untuk kesejahteraan kami bisa diperhatikan oleh Pemkab Blora," kata Arys Eko Siswanto, Ketua Progata Kabupaten Blora, dalam rilisnya, Senin (7/10/2019).

Sebelum syukuran, sehari sebelumnya di tempat yang sama, guru-guru honorer dan pegawai tenaga kependidikan tidak tetap ini menggelar donor darah.

"Kami telah menggelar donor darah pada 5 Oktober di BBS Cepu, dan nanti akan dilanjutkan 8 Oktober di SDN 3 Kunduran, diteruskan ke Kelurahan Ngawen 4 hari kemudian, lalu seminggu kemudian kami lanjutkan donor darah di Kecamatan Kradenan, dan seminggu selanjutnya di Kecamatan Jepon," kata Arys.

Tak sekedar berdonor, kepedulian guru dan pegawai honor tersebut juga menyentuh bencana kekeringan yang melanda berbagai tempat di Kabupaten Blora.

"Kami sejak minggu ketiga bulan lalu telah menyalurkan bantuan air bersih ke berbagai tempat, mulai dari Kecamatan Jati hingga Kecamatan Todanan, berlanjut ke kecamatan-kecamatan lain," sebut Arys.

Penyaluran air bersih berlanjut hingga Senin (7/10/2019).

"Rasa syukur kami berbagi dengan masyarakat desa yang mengalami kekeringan. Kami droping 2 tangki pada hari Senin, 7 oktober 2019 di Kecamatan Kunduran, pertama di Dukuh Karangpung, Desa Plosorejo, dan yang kedua di Dusun Pentil Etan, Desa Karanggeneng."

Paguyuban guru dan pegawai tidak tetap ini terbentuk pada 6 Oktober 2018. Wadah ini selain untuk menjaga solidaritas sosial antar sesama guru dan pegawai tidak tetap, juga menjadi wadah untuk memperjuangkan kesejahteraan mereka.

Guru dan pegawai tidak tetap, dikatakan Arys, tingkat kesejahteraannya lebih buruk dari pelayan toko atau karyawan swalayan. Mereka hanya mendapatkan honor dari sekolah yang besarannya bahkan ada yang Rp75 ribu sebulan. Besaran honor ini disebutkan Arys tergantung dari dana bantuan operasional yang didapat sekolah tempat guru atau pegawai tidak tetap itu bekerja.

Dalam setahun terakhir, wadah ini telah melakukan upaya, baik ke Pemerintahan Kabupaten Blora dan DPRD Kabupaten Blora agar mereka mendapatkan tambahan honor dari pemerintah. Namun hingga memasuki pembahasan APBD 2020, belum ada titik jelas, apakah nasib mereka akan diperhatikan pemerintah ataukah tidak. (*)