Dari Sekolah Negarawan yang digelar sehari

Blora adalah kunci

Foto: Gatot Aribowo

Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra menjelaskan tentang teori fraktal untuk menjelaskan keadaan negara saat ini yang masih membawa mental feodalisme dan populisme.

Kamis, 14 Mei 2026 17:24 WIB

BLORA (wartablora.com)—Adil Amrullah, atau yang akrab disapa Cak Dil, penggagas Sekolah Negarawan menyebut Blora sebagai kunci untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran kenegarawanan di Indonesia. Dalam sejarah perjalanan Indonesia, Blora dikenal memunculkan tokoh-tokoh pemikiran perlawanan yang punya pengaruh di kancah nasional. Mulai dari perlawanan akar rumput yang dimotori Samin Surosentiko hingga pemikiran-pemikiran yang mendobrak lewat karya sastra dari Pramoedya Ananta Toer.

"Maka untuk meneruskan sejarah, orang-orang Blora perlu memuliakan antara yang unggul di masa lalu dengan yang sekarang untuk melahirkan sesuatu yang baru," terangnya usai menggelar materi Sekolah Negarawan yang digelar di Blora pada Kamis, 14 Mei 2026.

Cak Dil merupakan adik kandung dari Emha Ainun Nadjib yang akrab disapa Cak Nun, salah satu tokoh nasional yang memilih jalan perjuangan pengajian-pengajian maiyah sejak awal masa reformasi 1998 hingga sekarang. Cak Dil juga menggagas pengajian Padhangmbulan, yang kelak melahirkan Sekolah Negarawan yang secara akses internet dapat dilihat di https://www.sekolahnegarawan.id/.

"Saya sudah lama mengusulkan ke teman-teman yang menjalankan Sekolah Negarawan ini untuk menyelenggarakan di Blora. Karena bagi saya, Blora ini kunci. Ekosistem pemikiran berkembang dan punya sejarah panjang mewarnai perjalanan bangsa dan negara ini," katanya ketika memberikan materinya.

Untuk memahami materi di Sekolah Negarawan dalam konteks meneruskan perjuangan Blora terdahulu, ia menekankan pada nilai-nilai ketimbang tradisi perlawanan sosial atau material kekuasaan. Setidaknya nilai tanggung jawab terhadap keadaan negaranya perlu dimiliki oleh setiap orang Blora.

"Setiap warga negara punya tanggung jawab terhadap keadaan negaranya," ujarnya.

Dengan memiliki tanggung jawab tersebut akan memunculkan kesadaran berpikir tentang negara, ketata-negaraan, dan kenegarawanan.

"Sering (muncul) pertanyaan, negara kok begini ya," singgungnya.

Nilai berikutnya adalah tentang sebutan atau konsep negarawan. Dalam salah satu halaman paparan yang ditampilkan di materi Sekolah Negarawan disebutkan beda antara negarawan dan politikus.

"Negarawan berpikir jangka panjang, politisi (berpikir) transaksional," tulis materinya.

Dalam sudut pandang Sekolah Negarawan, mereka yang bisa disebut sebagai negarawan adalah pribadi yang bijaksana, berwibawa, visioner, dan menguasai ilmu kenegaraan, pemerintahan, serta politik. Negarawan tidak identik dengan pejabat ataupun jenderal. Ia bisa berada di dalam atau di luar struktur kekuasaan. Tugas utamanya adalah menjaga prinsip dasar kebijakan negara dan memastikan urusan negara dikelola secara transparan demi keadilan dan kesejahteraan rakyat. Dengan demikian menjalankan tugas negara tidak hanya berlaku bagi orang-orang di dalam struktur kekuasaan ataupun prajurit dan aparat kepolisian, tapi bisa berlaku bagi orang-orang di luar strukrur kekuasaan.

"Republik ini belum selesai, mari kita selesaikan dengan Sekolah Negarawan," ujar salah satu peserta yang menyambut baik untuk melahirkan Sekolah Negarawan di Kabupaten Blora.