Anggota DPRD wajibnya gemar baca buku

Foto: Gatot Aribowo

Munawar : anggota dewan wajibnya gemar baca buku.

Kamis, 27 November 2025 16:40 WIB

BLORA (wartablora.com)—Setiap anggota dewan wajibnya gemar baca buku. Demikian pernyataan dari anggota DPRD Kabupaten Blora dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Munawar yang berbincang dengan wartablora.com di ruangan Ketua DPRD Kabupaten Blora pada Kamis, 27 November 2025. Pernyataan ini diamini Ketua Mustopa yang turut nimbrung berbincang. Meski demikian keduanya mengaku jarang dan kadang-kadang saja baca bukunya.

"Saya terakhir baca buku seminggu lalu. Tentang motivasi, judulnya lupa. Sebelumnya tidak ingat terakhir kapan baca buku. Jarang, memang," kata Munawar.

Mustopa yang pimpinan tertinggi di dewan tersebut juga menyebut jika dirinya juga jarang baca buku. Meski demikian ia setuju jika ada pernyataan bahwa anggota dewan adalah sekumpulan orang-orang terpelajar intelektual.

"Saya terakhir kapan ya, baca buku," ujar Mustopa sejenak mengingat. "Sebulan lalu, tentang Cak Imin," sambung politisi dari PKB ini.

Kami, wartablora.com coba melakukan survei kecil-kecilan ke anggota dewan yang pada Kamis itu sedang istirahat dari rapat Badan Anggaran DPRD Blora. Di Komisi D ada 5 anggota yang sedang berkumpul di ruangan kantornya. Ada Anif Mahmudi dari PDIP, Adiria dan Ika Dewi Susanti dari Gerindra, Galuh Widiasih Mustikasari dari Golkar, dan M. Mukhlisin dari PKB. Sementara di ruangan rapatnya ada Achlif Nugroho Widi Utomo.

Pertanyaan yang kami ajukan tentang frekuensi baca bukunya dengan kelompok jawaban: sering, jarang/kadang-kadang/sesekali seperlunya, dan tidak pernah. Pertanyaan berikutnya: buku apa yang terakhir anda baca, dan tentang apa, dan apa judulnya. Pertanyaan selanjutnya: menurut anda wajib atau bagusnya tidaknya setiap anggota dewan gemar baca buku. Lalu pertanyaan terakhir: setuju tidaknya jika anggota dewan disebut sebagai sekumpulan orang terpelajar intelektual.

M. Mukhlisin dari PKB menyebut jika dirinya gemar baca bukunya bentuk digital. Bahkan ia saat ini sedang menyelesaikan satu buku yang dibaca di aplikasi digital. Namun ia tak mengingat buku tentang apa dan judulnya apa.

Achlif Nugroho Widi Utomo dari PPP tampak menyakinkan sebagai orang terpelajar yang gemar baca buku. Ia hari itu merampungkan baca buku tentang marketing. Namun ia tak merinci apa judulnya. Meski demikian ia mengaku bacaan bukunya lintas disiplin ilmu. Baginya, gemar baca buku wajibnya tidak hanya di anggota dewan saja.

"Tapi juga masyarakat untuk literasinya," katanya.

Sementara Adiria dari Gerindra, Anif Mahmudi dari PDIP, dan Galuh Widiasih Mustikasari dari Golkar tidak memberikan jawaban pasti frekuensi baca bukunya. Meski demikian mereka menyebutkan buku apa yang terakhir atau sedang dibaca. Namun enggan menyebut judulnya.

"Saya tentang buku agama," kata Anif Mahmudi dari PDIP.

"Saya tentang self-improvement (pengembangan diri)," kata Galuh Widiasih Mustikasari dari Golkar.

"Saya tentang sosilogi," kata Adiria dari Gerindra.

Santoso Budi Susetyo dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPRD Blora dikenal baik sebagai anggota dewan yang gemar baca buku. Bahan bacaannya bahkan luas, tidak hanya non fiksi tapi juga fiksi. Buku-buku non fiksi yang ia baca pun lintas disiplin ilmu pengetahuan.

"Saya sedang menikmati buku fiksi, novel. Ada karya Paulo Coelho dan George Orwell," kata Budi sembari menunjukan novel berjudul 1984 karya George Orwell kepada kami.

Sebelumnya ia telah menyelesaikan novelnya George Orwell berjudul Animal Farm. Novel-novel George Orwell memotret realitas sosial politik yang ada di masyarakat. Bahkan relevan dengan realitas sosial politik di Indonesia.

"Ya sejak dulu saya sering menekankan ke anggota-anggota baru untuk gemar baca buku dengan bahan-bahan yang luas, lintas disiplin ilmu pengetahuan," kata politisi yang Ketua RW. 01 Kelurahan Kota Jepon ini.

Membaca buku atau tulisan lintas disiplin ilmu pengetahuan dikatakan Koordinator Divisi Pengembangan Minat Baca & Tulis Karang Taruna Kencana Kelurahan Jepon, Ramadhan Ega diperlukan jika ingin meningkatkan kapasitas sumber daya orang.

"Tergantung dari bahan bacaannya juga. Mungkin dia bisa kita katakan sering baca buku. Kuantitasnya banyak. Tapi jika tidak melakukan diversifikasi bacaannya akhirnya kapasitas orangnya tidak berkualitas," kata Ega yang tinggal di Lingkid, Jepon.

Ia memberi contoh ketika seseorang mengidolakan politisi. Ia bisa saja banyak membaca buku, tapi hanya tentang politisi tersebut.

"Dia bisa saja kita katakan sering baca buku. Tapi pengetahuannya sebatas itu. Jadi kuantitas tidak memengaruhi kualitas orangnya, kecuali kuantitasnya didiversifikasi," ujar penggiat literasi di Kelurahan Kota Jepon yang gemar baca buku-buku sains ini.