Tenda Perjuangan Penolak Pabrik Semen Dibakar?

Foto: Akun Facebook Joko Prianto

Foto pembakaran tenda bereda luas di dunia maya. Tenda yang dibakar ini diklaim sebagai tenda milik warga penolak pabrik semen. Namun polisi menyangkalnya. Polisi menyebut tenda ini milik warga pro semen.

Sabtu, 11 Februari 2017 19:08 WIB

REMBANG (wartablora.com)—Kebenaran informasi adanya pembakaran tenda yang didirikan warga penolak pabrik semen masih simpang siur. Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Joko Prianto melalui keterangan tertulis yang dilansir Antara, di Jakarta, Sabtu (11/2/2017) dini hari, menyebutkan tenda yang didirikan warga penolak pabrik semen dibakar massa yang ia duga sebagai pekerja pabrik semen. Sementara Wakapolres Rembang Kompol Pranandya Subiyakto, seperti dilansir Tribun Jateng, mengatakan tidak ada pembakaran tenda.

"Yang ada adalah aksi pembongkaran, yang dilakukan oleh sekelompok orang," kata Wakapolres Rembang, Sabtu (11/2/2017).

Sebelumnya Jumat tengah malam beredar informasi adanya pembakaran tenda dan musholla yang didirikan warga penolak pabrik semen. Dalam keterangan tertulisnya, Joko Prianto menjelaskan kronologi pembakaran tenda perjuangan masyarakat Kendeng itu.

Mulanya, pada Jumat malam warga melakukan aksi bertajuk 'Tegakkan Hukum, Tutup Pabrik PT Semen Indonesia'. Pasca-aksi atau sekitar pukul 19.50 WIB, sebanyak 50-an orang yang ditengarai merupakan pekerja semen datang di lokasi tenda perjuangan yang berada di dekat pintu masuk menuju pabrik semen PT Semen Indonesia.

Adapun saat itu di tenda terdapat delapan warga, termasuk ibu-ibu yang tengah berjaga. Mereka berjaga setelah sebelumnya melakukan aksi tolak pembangunan pabrik semen.

"Tiba-tiba mereka berteriak memaksa warga yang sedang berada di dalam tenda untuk keluar dan meninggalkan tenda, mengancam akan merobohkan tenda dan membakar tenda perjuangan dengan alasan mengganggu pekerjaan mereka di PT Semen Indonesia. Ibu-ibu yang di dalam tenda ketakutan dan keluar tenda," jelas Prianto.

Selanjutnya, kata dia, para pekerja yang diduga dari PT Semen Indonesia itu membongkar portal yang telah didirikan warga serta membongkar dan merobohkan dapur juga tenda perjuangan.

Setelah itu, Prianto melanjutkan, pada pukul 19.55 WIB, para pekerja bersama-sama berupaya merusak musala berisi alat salat dan kitab suci Alquran yang dibangun warga pada 15 Februari 2016 lalu.

"Tenda perjuangan dan musala serta peralatan ibadah yang berada di dalamnya dibakar. Dalam hitungan menit, pukul 20.11 WIB tenda dan mushola ludes dilalap api," kata Prianto.

Menurut dia, beberapa warga mendatangi lokasi untuk menanyakan kepada polisi yang biasa berjaga di area pabrik. Namun, pihak kepolisian mengatakan tidak mengetahui kejadian tersebut.

Bukan Tenda Penolak, Tapi Tenda Pro Semen

Wakapolres Rembang Kompol Pranandya Subiyakto mengatakan, yang dibakar bukan tenda warga penolak pabrik semen melainkan kayu bekas tenda warga pro semen.

"Yang dibakar, ya itu, kayu bekas tenda yang justeru milik warga pro semen," kata Kompol Prandandya, seperi dikutip dari Tribun Jateng.

Menurut dia, informasi yang beredar di media sosial dan blog yang dibuat warga penolak semen, tak sepenuhnya benar.

"Tak ada perusakan tenda dan pembakaran musala di lokasi aksi blokade warga, yang memblokir akses masuk ke pabrik semen di Rembang," katanya.

Menurut dia, yang sebenarnya terjadi adalah aksi pembongkaran, yang dilakukan oleh sekelompok orang. Menurut dia, yang menjadi sasaran pembongkaran bukan hanya tenda milik warga penolak pabrik. Melainkan, juga tenda milik warga yang pro terhadap pendirian pabrik.

"Setelah dibongkar, kayu-kayu bekas tenda milik warga penolak pabrik dibiarkan ter‎onggok di lokasi semula. Sementara kayu bekas tenda warga pro semen, dipindahkan beberapa puluh meter dari lokasi semula, dan kemudian dibakar," jelasnya.

Ia juga menegaskan, tak benar bahwa ada pembakaran musala, beserta mushaf Al-Quran, mukena, dan alat ibadah lainnya. Menurutnya, mushaf Al-Quran, mukena dan perlatan ibadah lain di musala milik warga penolak semen, diamankan oleh seorang tenaga security pabrik.

"Saat ada aksi pembongkaran, barang-barang di musala diamankan," katanya.

Kendati demikian, ia menegaskan kepolisian akan melakukan langkah hukum dan memproses aksi pembongkaran dan pembakaran tersebut.

"Kita proses, saat ini sedang lakukan penyelidikan untuk mengusut siapa-siapa yang terlibat dalam kasus ini. Sisa-sisa kayu di lokasi kita amankan sebagai barang bukti, demikian juga mushaf Al-Quran dan mukena dari musala milik warga penolak," tegas dia. (*)

Sumber: Tirto ID/Tribun Jateng