Saksi kunci dugaan korupsi Pilang diperiksa polisi

Foto: Gatot Aribowo

Sri Winarti didampingi kuasa hukum dari Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Kabupaten Blora, Lukito, SH. dan Darda Syahrizal, SH saat melaporkan Suyatno ke Polres Blora pada Jumat, 26 Juni 2020. Sri Winarti melaporkan Suyatno atas dugaan penyalahgunaan wewenang terbitnya Surat Keterangan Kepemilikan Tanah Sertifikat Hak Milik bernomor 00683/Desa Pilang. Dalam surat keterangan tersebut dinyatakan jika pemilik sertifikat hak milik bernomor 00683 adalah Agus Muryanto. Sementara di Kantor Pertanahan Kabupaten Blora sertifikat tersebut terdaftar atas nama Sri Winarti.

Selasa, 14 Juli 2020 17:29 WIB

BLORA (wartablora.com)—Sri Winarti, saksi kunci dugaan tindak pidana korupsi Kepala Desa Pilang, Randublatung, Suyatno, dimintai keterangan oleh polisi terkait laporan pemalsuan tanda tangan yang dituduhkan kepadanya. Wina, sapaan akrab Sri Winarti dimintai keterangan Unit I Satreskrim Polres Blora, Selasa (14/7/2020). Didamping tim kuasa hukumnya, Wina diperiksa polisi selama hampir 2 jam.

"Klien kami hari ini dikonfrontir terkait laporan Suyatno yang melaporkan klien kami atas tuduhan pemalsuan tanda tangan di akta jual beli tanah pada tahun 2015," kata Lukito, kuasa hukum Wina usai pemeriksaan.

Suyatno melaporkan Wina pada Selasa, 26 Mei 2020. Ia menuduh Wina memalsukan tanda tangannya sebagai saksi di dalam akta jual beli tanah antara Wina dengan Agus Muryanto. Transaksi jual beli ini terjadi pada 2015, dengan Agus sebagai pihak penjual tanah sementara Wina sebagai pihak pembeli. Transaksi ini, termasuk alih nama sertifikat telah selesai pada tahun itu.

Lima tahun kemudian, setelah Wina menyatakan bersedia menjadi saksi kunci Kejaksaan Negeri Blora atas perkara dugaan korupsi di Pemerintahan Desa Pilang, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Suyatno mempermasalahkan transaksi jual beli tanah tersebut. Suyatno tidak mengakui jika tanda tangan di akta jual beli tanah adalah tanda tangannya. Suyatno justru menuduh Wina memalsukan tanda tangannya.

"Dalam pemeriksaan tadi, polisi nantinya akan melakukan uji forensik atas tanda tangan di akta jual beli tanah tersebut," ujar Lukito.

Darda Syahrizal, anggota tim kuasa hukum Wina lainnya mengatakan, uji di laboratorium forensik ini diperlukan untuk membuktikan apakah tanda tangan tersebut benar-benar tanda tangan dari Suyatno ataukah tidak.

"Sayangnya uji laboratorium ini tidak pernah dilakukan oleh Pengadilan Negeri Blora saat mengadili perkara gugatan perdata yang dilayangkan kepada klien kami baru-baru lalu," ujar Darda.

Pengadilan Negeri Blora mengadili gugatan perdata atas tanah bersertifikat hak milik nomor 00683 yang dilayangkan Agus Muryanto kepada Sri Winarti. Dalam persidangan, Agus menggunakan kesaksian Suyanto yang menyatakan adanya pemalsuan tanda tangan Suyatno sebagai saski dalam akta jual beli. Kesaksian ini, dikatakan Darda dijadikan dasar Pengadilan Negeri Blora memenangkan gugatan Agus.

"Setelah dinyatakan menang oleh Pengadilan Negeri Blora, Suyatno melanjutkannya dengan melaporkan tindak pidana pemalsuan tanda tangan ke Polres Blora. Hari ini klien kami dimintai keterangan," kata Lukito.

Sebelumnya, Sri Winarti juga gantian melaporkan Suyatno atas dugaan peyalah-gunaan wewenang. Laporan ini berdasar terbitnya Surat Keterangan Kepemilikan Tanah Sertifikat Hak Milik bernomor 00683/Desa Pilang untuk mengklaim tanahnya Sri Winarti sebagai tanah miliknya Agus Muryanto.

"Hari Kamis ini (16/7/2020), klien kami akan dikonfrontir terkait perkara dugaan peyalah-gunaan wewenang," imbuh Lukito. ***