BERITA Sosok

Mengenal Aipda Suyono, Bhabinkamtibmas Pengembang Alat Giling Pakan Ternak

Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Jiken memelopori peternak sapi di desanya untuk mengembangkan alat giling pakan ternak. Sebagai bentuk kepedulian polisi terhadap masyarakat yang dibinanya.

Oleh : Gatot Aribowo

Foto: Gatot Aribowo

Aipda Suyono menunjukkan mesin pencacah untuk pakan ternak, yang ia buat bersama teman-temannya.

BAGI warga desa, sapi adalah tabungan yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan jika terdesak kebutuhan. Namun bagi Suyono, warga Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, memiliki sapi tak sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi anggota Bhabinkamtibmas Polsek Jiken yang kesehariannya bertugas di Desa Nglobo ini, memiliki sapi adalah bentuk kepeduliannya sebagai anggota kepolisian. Maklum saja, ia masih harus menjalani tugasnya sebagai anggota polisi, selain di rumah ia memiliki kios yang sewaktu-waktu ia akan dimintai bantuan istrinya untuk menjaganya.

"Jadi saya tidak beternak sapi sendiri," katanya saat ditemui di rumahnya di Desa Nglobo, Rabu, 20 Desember 2017.

Menjadi anggota polisi sejak tahun 1981, pria kelahiran Desa Nglobo yang kini berpangkat Ajun Inspektur polisi dua (Aipda) ini tak pernah terpikir untuk kelak ia akan beternak sapi dengan sistem bagi hasil. Bermula 3 tahun lalu, ketika istrinya, Ninik, ditawari seorang tetangganya untuk membeli sapi yang sedang bunting 3 bulan.

"Lalu istri cerita sama saya, mau tidak. Ini yang menawari sedang butuh uang," kata ayah 2 anak yang kini telah memiliki 1 cucu ini.

Suyono tak langsung menyetujui. Ia masih ragu, benarkah sapi itu bunting? Wajar ia ragu, karena selama hidupnya ia tak pernah memiara sapi. Sebelum memutuskan membeli, ia pun mengundang mantri hewan untuk mengecek bunting tidaknya sapi yang ditawarkan tetangganya itu. Setelah dipastikan bunting, ia pun bernegosiasi dengan tetangganya itu.

"Ketemulah harga Rp10 juta. Ini sapi jawa, jadi harganya tidak mahal-mahal amat," katanya.

Suyono tidak melakukan penawaran yang menjatuhkan harga walau si penjual sedang butuh uang. Ia hanya berniat membantu. Lalu disepakati, sapi yang telah jadi hak miliknya itu tetap dipiara si penjual. "Tapi nanti anakan dibagi dua," sebutnya.

Pembagian ini saat anakan siap jual. Hasil penjualan dibagi dua. Tapi biasanya Suyono akan memberikan tambahan seratus atau dua ratus ribu untuk yang memiara.

Seiring waktu, tetangga-tetangga lain tertarik untuk menjalin kerja sama dengan mantan Kepala Desa Nglobo tahun 1998 hingga 2006 itu. Rata-rata mereka yang mengajak kerja sama karena terdesak kebutuhan hidup, lalu membutuhkan uang. Kini ada 6 orang, tetangganya di Desa Nglobo yang menjalin kerja sama dengannya, dengan jumlah sapi 8 ekor.

"Suatu ketika seorang tetangga menawari saya untuk membeli sapinya yang sudah punya anakan berumur 2 bulan," kisah Suyono.

Tetangganya itu hanya butuh uang Rp5 juta, sementara anakan sapinya belum siap jual. Lucunya, si tetangga Suyono hanya ingin menjual induknya, tidak sekalian dengan anakannya. Sementara anakannya itu tak bisa dipisahkan dengan induknya karena masih menyusu. "Karena saya lihat orangnya itu jujur dan saya hanya ingin membantu, saya lalu membeli induknya dengan anakannya tetap menjadi milik dia," lanjut Suyono.

Untuk soal hitung-hitungan bagi hasil, Suyono tidak kaku dalam pembagian hasil dari anakan. Pernah suatu saat seorang tetangganya yang telah kerja sama dengannya merasa berat telah memiliki 4 sapi, termasuk indukan yang dipiaranya. Dari indukan itu, telah keluar anakan sapi betina yang telah beranak pula berupa sapi jantan. Sementara indukannya juga beranak pula. Dengan jumlah 4 ekor, yang memiara merasa tak sanggup.

"Jadi anakan dari anakan induknya, yang berjenis jantan itu jadi hak milik saya. Sedangkan yang anakan dari induknya, yang berjenis betina itu jadi hak milik dia. Kemudian dibandingkan harga antara yang berjenis jantan dengan yang berjenis betina itu. Tentu harganya yang jantan lebih tinggi. Nah, selisih harga itu lalu kita bagi dua," jelas Suyono.

Berawal dari Berat di Ongkos

Kendati tidak ikut memiara sapi-sapinya, Suyono tak lantas bisa lepas tangan. Apalagi ketika musim kemarau tiba. Di musim ini, stok pakan akan didapat dengan cara membeli. Mau tidak mau, Suyono perlu keluar uang untuk membeli pakan ternaknya.
"Dari memiara sapi-sapi ini, di musim kemarau saya turut membantu mencarikan makan. Saya perlu keluar uang untuk membeli pakan sapi. Secara hitung-hitungan di musim kemarau memang berat untuk ongkos pakan ternak," kata Suyono yang pernah bertugas di Polsek Cepu sebelum ia menjadi Kepala Desa Nglobo.

Berat di ongkos ia rasakan selama 3 tahun ia beternak sapi dengan cara dipiara orang lain, di musim-musim kemarau. Apalagi ada ongkos tambahan untuk selamatan saat indukan sapi beranak. "Di desa kalau sapinya punya anak, akan ada bancakan (selamatan untuk ungkapan rasa syukur). Itu ongkos saya tanggung. Lalu ada lagi bancakan tiap Jumat Wage. Tidak tiap selapan (35 hari) sekali, tapi tiap 6 bulan sekali. Ini saya juga sebagian menanggung ongkosnya," cerita Suyono.

Hingga suatu ketika ia membaca-baca buku mengenai ternak sapi. Di dalamnya ia menemukan pembuatan alat pencacah pakan ternak. Ia tertarik untuk membuatnya. Kepada Naryo, salah seorang tetangganya yang hubungannya dekat, ia bercerita tentang ini. Lalu cerita diteruskan ke yang lain, yang masih punya hubungan dekat.
"Lalu saya usulkan untuk menggunakan mesin motor saya yang lama tidak dipakai," kata Suyono.

Mesin itu bermerk Dongfeng, berkekuatan hingga 8 pk. Mesin motor ini lantas diboyong ke rumah Naryo. Di sana jadi bengkel pembuatan mesin penggiling (pencacah) pakan ternak. Setelah mesin motor tersedia untuk penggerak alat pencacah, berikutnya adalah mencari komponen untuk membuat alat pencacah.

"Lalu muncul usulan menggunakan per truk. Ini besi berbentuk lempengan. Cocok untuk digunakan sebagai bahan pembuat pisau. Karena pisau ini menjadi komponen penting, maka bahannya harus kuat," jelas Suyono.
Untuk membelah lempengan besi ini, diperlukan pandai besi. Lalu per-per ini dibawa ke pandai besi yang ada di Jepon. Mereka diminta untuk membuat pisau yang tajam. Terbentuklah 20-an pisau untuk dirakit ke mesin pencacah.

"Setelah itu kami rakit di rumahnya Pak Naryo," kata Suyono.

Ini dikerjakan sekitar bulan April 2017. Setelah dirasa sudah jadi, mereka melakukan uji coba. Beberapa warga yang punya ternak sapi diminta untuk membuat pakan ternak dengan gilingan. Hasil pakannya jadi lembut. Batang-batang tanaman jagung yang keras, yang biasanya dibuang karena sapi tidak mampu menguyahnya, turut digiling dan bisa dijadikan pakan.

"Saya sengaja ingin memperlihatkan ke warga yang beternak sapi untuk mencobanya. Mereka lalu membawa bahan mentah pakan untuk digilingkan. Semuanya tidak kita tarik biaya karena kita ingin mencobanya ke warga peternak sapi yang ada di desa kami," jelas Suyono.

Selain menguntungkan warga lainnya, Suyono pun mendapat keuntungan dengan penghematan biaya pakan.

"Setelah mesin jadi itu kebetulan dari kepolisian diminta untuk membuat Bhabinkamtibmas lebih kreatif di masyarakat. Lalu saya ekspose dengan melakukan uji coba besar-besaran di persawahan. Kami mengundang 30 peternak sapi di desa kami ini untuk melakukan penggilingan pakan ternak. Hasilnya luar biasa," kata Suyono.

Dari hasil ini, beberapa warga mulai ada yang membuat mesin sendiri, meskipun dengan tenaga mesin motor yang rendah.

20171222-suyono_2.jpgJeroan dari mesin menggunakan per truk yang berupa lempengan-lempengan, dipotong-potong di pandai besi dibentuk pisau-pisau yang tebal dan tajam.

Pengembangan Silase

Tak puas dengan membuat pakan ternak yang lembut hasil cacahan, Suyono berkeinginan peternak sapi di desanya mengembangkan silase, yakni pakan ternak hasil fermentasi. Namun ia ingin fermentasinya tidak ada bahan campuran, melainkan murni dari hasil penggilingan yang disimpan selama 21 hari atau lebih.
"Silase ini memanfaatkan sisa panenan jagung yang batangnya terbuang. Jadi daripada dibakar mendingan digiling lalu disimpan untuk kebutuhan pakan masa mendatang," cetusnya.

Penyimpanannya menggunakan plastik yang kedap udara. "Tapi lebih baik menggunakan tong, yang tutupnya rapat dan tidak bocor udara. Kalau plastik kan masih bisa tertusuk dan bocor," katanya.

Saat ini beberapa peternak di desanya sudah mencoba. Tapi masih menggunakan plastik. Untuk bisa menggunakan tong, peternak yang telah mengembangkan silase ini belum mampu membelinya. Dibutuhkan anggaran jutaan rupiah untuk pengadaan tong.
"Yang pasti keinginan untuk mengembangkan silase ini akan kita lakukan. Apalagi saat musim panen raya tiba nanti di awal-awal tahun. Pakan untuk ternak akan berlimpah. Karena itu perlu kita simpan untuk menyiapkan kebutuhan pakan di bulan-bulan kemarau. Sebab silase ini bisa disimpan berbulan-bulan, bahkan hingga 8 bulan. Dengan mengembangkan silase ini, biaya produksi untuk pakan ternak akan berkurang banyak, dan keuntungan dari beternak sapi akan berlipat," paparnya.

Kapolres Bangga

Kapolres Blora AKBP Saptono mengaku merasa bangga dengan pengabdian yang dilakukan Aipda Suyono kepada masyarakat tempat ia bertugas. Sebagai salah satu anggota Bhabinkamtibmas di jajaran Polres Blora, Aipda Suyono telah menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat.

"Tentu yang kita inginkan adalah masing-masing Bhabinkamtibmas dapat berperan di masyarakatnya dengan bentuk kepedulian masing-masing, mengembangkan daya kreativitas dan inovasi yang disesuaikan dengan potensi pemberdayaan masyarakat di tempat tugas masing-masing," kata Kapolres.

Aipda Suyono, kata Kapolres, walaupun kelihatannya berkegiatan ekonomi namun pada dasarnya ia tidak semata-mata mementingkan keuntungan di atas kepentingan peduli terhadap masyarakat. Ini berbeda dengan kegiatan ekonomi pada umumnya yang mementingkan keuntungan, bahkan untung besar, di atas segala-galanya.

"Inilah bentuk kepedulian polisi terhadap masyarakatnya," ujar Kapolres. (*)


KOTAK KOMENTAR

Sosok Lainnya 

on wartablora.com 

News / Peristiwa

Kapolres Kembali Ingatkan Netralitas Anggota

Rabu Pahing - 17 Januari 2018 - 23:14
News / Peristiwa

Cegah Difteri, Anggota Polres Divaksin

Rabu Pahing - 17 Januari 2018 - 23:04
News / Seremoni

9 Kapolsek Dirotasi

Selasa Legi - 16 Januari 2018 - 20:07
News / Seremoni
Sosialisasi DIPA Polres

Kapolres: Jangan Bermain-main dengan Anggaran

Senin Kliwon - 15 Januari 2018 - 20:06
News / Peristiwa

Diduga Korsleting di Aki, Jazz Bidan Pule Terbakar

Senin Kliwon - 15 Januari 2018 - 19:23