BERITA Hukum & Kriminal 1475
Views

Jalan Keadilan Buat Ngasiran, Pencuri Kayu Jati

Benarkah Ada Rekayasa Perkara Hukum?

Seorang petani yang buta huruf didakwa mencuri kayu jati sebanyak 27 gelondong. Dari pengakuannya, ia hanya membawa 1 gelondong. Kini persidangannya masih bergulir di PN Blora, tanpa didampingi penasehat hukum.

Oleh : Gatot Aribowo

Foto: Gatot Aribowo

Ngasiran, walaupun terbebani pikirannya atas perkara yang dijeratkan padanya namun masih berusaha untuk tetap tegar.

SUATU hari di bulan Agustus 2017. Sebanyak 40 orang dengan membawa kendaraan roda dua tengah beriring-iringan melintas di kawasan kehutanan milik Perhutani. Mereka masing-masing membawa dua gelondong kayu jati. Gelondongan kayu yang dibawa berukuran panjang tak lebih 2,5 meter dengan diameter tak lebih 25 sentimeter. Salah satu dari 40 orang itu adalah Ngasiran, warga Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora.

"Saya naik sepeda motor Honda Grand," kata Ngasiran saat ditemui di Lapas Blora, Kamis, 2 November 2017.

Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan petugas Polisi Hutan dari Perhutani KPH Randublatung. Ada 10 orang petugas yang menghadang. Tapi Ngasiran tak ingat lagi apakah petugas itu gabungan Polisi Hutan dengan Polisi dari Polres Blora.

"Seingat saya ada 10 orang," jawab Ngasiran saat ditanya berapa seingat dia petugas yang menghadang.

Oleh petugas yang menjadi komandan regu, 40 orang termasuk Ngasiran diperintah untuk menurunkan 1 gelondong kayu jati. Sementara sisanya yang 1 gelondong lagi diijinkan untuk dibawa. Ngasiran menduga, diijinkannya 40 orang itu membawa pulang 1 gelondong kayu jati karena khawatir mereka akan dikeroyok.

"Mereka kalah jumlah. Mereka 10 sementara kami 40," ujar Ngasiran.

Meski diijinkan, Ngasiran mengaku memberikan uang bensin untuk petugas-petugas ini.

Setelah mendapat ijin, 40 orang ini lantas pulang ke rumah masing-masing. Sesampai di rumah, Ngasiran lalu berinisiatif untuk memotong-motongnya untuk menjadi bentuk papan-papan.

"Saya pekerjakan tukang untuk memotong jadi papan. Dapat 5 papan dengan panjang 2,5 meter dan lebar selawenan," katanya.

Selawenan untuk menyebut lebar 25 sentimeter. Tapi beberapa lainnya ada yang 23 sentimeter.

Lima papan inilah yang belakangan disebut oleh Ngasiran sebagai sitaan untuk dijadikan barang bukti. Sementara ia sendiri tidak tahu mengapa polisi menyebut ada 49 kayu jati gelondongan yang dibawa dari rumahnya bersamaan dengan barang bukti berupa truk. Belakangan, dalam dakwaan Jaksa, barang bukti gelondongan kayu jati yang dituduhkan dicuri Ngasiran jumlahnya berkurang dari 49 jadi 27.

"Nanti saya akan ngomong ke Bu Hakim, saya mengakui hanya 1 gelondong yang telah saya potong-potong jadi papan," kata Ngasiran yang berusia 67 tahun ini.

Ngasiran mengaku tak didampingi pengacara saat pemberkasan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Ia yang buta huruf hanya disuruh cap jempol di berkas BAP.

"Saya hanya diterangkan jika isi yang saya cap jempol itu seperti kemarin. Saya tidak tahu yang kemarin itu apa. Saya hanya ditunjukkan foto-foto yang di dalamnya ada saya. Ya, saya iyakan. Saya ini kan orang tidak berpendidikan, tidak bisa baca tulis, dan menurut saja untuk disuruh cap jempol. Tapi yang benar adalah saya hanya membawa satu gelondong jati," kata Ngasiran yang memiliki 3 anak ini.

Imam Muhlas, Direktur LBH Kinasih mengatakan, ada yang janggal dalam proses hukum terhadap Ngasiran. Imam menduga ada rekayasa perkara untuk menjadikan Ngasiran sebagai tumbal atas hilangnya kayu jati di hutan milik Perhutani.

"Menilik cerita dari Ngasiran, saya punya keyakinan jika ini rekayasa kasus. Petugas melakukan foto-foto saat menghentikan rombongan 40 orang itu. Lalu dijadikan bahan untuk penyidikan, untuk nantinya ditunjukkan ke tersangka. Kemudian diambil tersangkanya dari orang yang buta huruf tidak tahu baca tulis, sehingga mudah untuk dikerjai. Apalagi tidak didampingi pengacara," kata Imam, Kamis, 2 November 2017.

Baik dari penyidikan hingga persidangan, Ngasiran menjalani proses hukumnya tanpa pendampingan pengacara. Di persidangan pertamanya pada Rabu, 25 Oktober 2017, Majelis Hakim PN Blora yang menyidang Ngasiran sempat menanyakan akankah didampingi pengacara. Namun Ngasiran yang mengaku pada wartawan telah terlanjur tidak didampingi pengacara, menyanggupkan dirinya sendiri untuk melakukan pembelaan di persidangannya.

"Ya karena sudah terlanjur, saya tidak mau didampingi pengacara," pengakuan Ngasiran pada wartawan.

Imam mengatakan, walaupun terdakwa menolak didampingi Penasehat Hukum (PH), seharusnya pengadilan tetap menyediakan PH bagi terdakwa.

"Ini sudah jelas kok diatur dalam pasal 56 ayat 1 KUHAP," kata Imam dalam rilisnya yang dikirim ke wartablora.com pada Rabu malam, 1 November 2017. 

Farid Rudiantoro, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Cepu Raya menyatakan, pihaknya akan melakukan pengawalan kasus Ngasiran ini meskipun menolak didampingi tim Advokasi Pokok Perkara, yang merupakan gabungan beberapa LBH di Cepu dan Bojonegoro.

"Ini tidak mengurangi upaya kami untuk terus mengawal kasus ini. Ngasiran merupakan potret seorang petani yang hidup di sekitar hutan, dan menggantungkan hidupnya dari hutan. Dan yang sangat disayangkan lagi, ancaman hukuman Ngasiran ini maksimal 10 tahun penjara dengan denda Rp5 miliar rupiah. Angka yang fantastis bagi seorang petani miskin yang telah usia lanjut," kata Farid dalam rilis yang sama.

Darda Syahrizal, pengacara yang ditunjuk LBH Kinasih untuk mendampingi perkara Ngasiran mengatakan, atas dasar keadilan dan kemanusiaan dirinya menggandeng beberapa LBH untuk membentuk tim Advokasi Pokok Perkara buat mengawal Ngasiran dalam persidangan. LBH-LBH yang digandeng pengacara dari LBH Kinasih ini antara lain LBH Cepu Raya.

"Rencananya juga akan menggandeng LBH Semarang dan YLBHI. Nanti Rabu depan (8/11/2017) kami akan datang dalam persidangan Ngasiran sebagai pengunjung," katanya.

Beberapa hari setelah ditangkapnya Ngasiran, Darda didatangi pihak keluarga Ngasiran untuk dimintai bantuan hukumnya. Oleh Darda, gugatan praperadilan lalu dilayangkan. Sayangnya, gugatan ini dikalahkan lantaran sidang perkara Ngasiran telah digelar sehari sebelum digelarnya sidang praperadilan.

"Kini kita hanya berharap pada keadilannya Majelis Hakim di persidangan Ngasiran. Jangan sampai hanya mencuri 1 gelondong kayu jati, lalu dibenarkan oleh Majelis Hakim telah mencuri 27 kayu. Dari mana polisi atau jaksa mendapatkan 27 kayu jati gelondongan sebagai barang bukti, sementara Ngasiran hanya punya 5 papan hasil dari 1 gelondong kayu jati?" tanya Darda. (*)


KATA KUNCI
KOTAK KOMENTAR

Hukum & Kriminal Lainnya 

on wartablora.com 

Metro Cepu / Peristiwa
Jalan Keadilan Buat Korban Penggusuran Balun Cepu (Bagian 3)

Upaya Memperjuangkan Kompensasi

Selasa Pon - 14 Nopember 2017 - 21:05
News / Peristiwa
Kabar Tak Sedap Pengisian Perangkat Desa

Fraksi PKS di DPRD: Jangan Mudah Teperdaya

Kamis Pon - 09 Nopember 2017 - 17:09
Ekonomi & Bisnis / Info Bisnis
Undian Tabungan BPR BKK Blora

Warga Kedungtuban Raih Daihatsu Zigra

Rabu Pahing - 08 Nopember 2017 - 19:34
News / Peristiwa
Dorong Masyarakat dalam Pengawasan Pemilu

Panwaskab Gelar Sosialisasi Pengawasan Partisipatif

Kamis Legi - 02 Nopember 2017 - 15:44
Berita Foto / Pendidikan

Pameran Buku di GOR Mustika

Rabu Kliwon - 01 Nopember 2017 - 13:13