BERITA Wawancara

Wawancara dengan Ketua HTI Blora

Punya Ratusan Simpatisan, Akur dengan Organisasi Keagamaan Lain

Selasa Wage - 09 Mei 2017 | 23:57 bbwi
Foto: Istimewa

Puji Widodo, Ketua DPD II Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kabupaten Blora.

PEMERINTAH Indonesia hendak membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dalam pernyataannya melalui Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan HAM, Wiranto, pada Senin (8/5/2017), Pemerintah Indonesia salah satunya menyebut aktivitas yang dilakukan HTI menimbulkan benturan di masyarakat dan membahayakan keutuhan NKRI. Pengurus pusat HTI sendiri di Jakarta, Selasa (9/5/2017), dengan tegas menolak rencana pembubaran tersebut. Dalam pernyataan pers-nya, HTI menyatakan tudingan Pemerintah Indonesia bahwa kegiatan HTI menimbulkan benturan di masyarakat adalah tudingan yang mengada-ada.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) II HTI Kabupaten Blora, Puji Widodo, berkesempatan diwawancarai wartablora.com, Selasa (9/5/2017), tentang salah satunya kegiatan-kegiatan mereka di Kabupaten Blora. Puji yang mengaku terkejut dengan adanya rencana Pemerintah Indonesia yang hendak membubarkan organisasinya, menyebut jika hubungan HTI dengan organisasi-organisasi keagamaan yang lain di Blora baik-baik saja. Pihaknya juga tak memiliki konflik maupun benturan dengan organisasi-organisasi massa yang ada di Blora. Bahkan ia mengaku, HTI di Blora memiliki hubungan luas, baik dengan pemerintah, aparat, organisasi lain, baik organisasi keagamaan maupun organisasi massa, di Kabupaten Blora.

Berikut petikan wawancara dengan Puji Widodo, yang didampingi sekretarisnya, Muhammad Nurwafi, di Jalan Pringgading 9 Kaliwangan Blora pada Selasa (9/5/2017) malam.

Sejak Kapan HTI ada di Blora?

HTI sendiri mulai muncul di Blora sekitar tahun 2008. Cuma memang HTI sebagai sebuah organisasi (di Blora) dan berinteraksi dengan instansi lain ya sekitar 2010-an. Terkait dengan keberadaan kita itu, kita mengirimkan kelengkapan (administrasi) ke Kesbangpol, ke Polres, ke Kodim, ke DPRD, ke Bupati, ke Depag, termasuk kepengurusan. Kita menyebutnya DPD II. Saya sendiri 2 periode. Terakhir kami kirimkan kepengurusan 2016-2021.

Ada kepengurusan sampai kecamatan?

Kalau kita secara resmi yang baru kita sampaikan baru tingkat kabupaten. Kalau secara simpatisan, yang aktif di kita ini tersebar di berbagai kecamatan, di 16 kecamatan. Tapi kita tidak seperti organisasi lain yang ada kartu anggotanya, jadinya yang kita laporkan ya pengurus harian.

Jumlah simpatisan sendiri di Blora mencapai berapa?

Kita pernah mengadakan kegiatan tahun 2014 di Gedung Garuda, yang ada kurang lebih waktu itu 500-an. Itu dua tahun lalu, kita bisa mendatangkan sekitar itu.

Apa saja kegiatan dari HTI di Blora?

Kita ada kegiatan rutin, ada kegiatan insidental. Yang rutin sifatnya pembelajaran rutin untuk mendalami Islam. Di Blora sendiri setiap agenda terbuka kita tidak ada masalah. 

Bagaimana hubungan HTI dengan organisasi lain di Blora ini?

Salah satu aktivitas yang rutin kita jalankan itu menjalin silaturahim dengan berbagai elemen. Baik tokoh masyarakat, ulama, kyai, maupun organisasi lain, baik itu masyarakat juga keagamaan, baik itu NU, Muhammadiyah, dan lainnya. Kita tidak ada masalah. Pada intinya kita memang membangun sinergitas dakwah yang kita jalankan.

Apakah dakwahnya termasuk khilafah?

Jadi sebenarnya bahasa khilafah di kita itu tidak pas. Sebenarnya kalau kita bicara tentang khilafah itu kan di khazanah fiqih Islam itu salah satu pokok bahasan yang berkaitan dengan salah satu syariat. Artinya khilafah itu bagian dari ajaran Islam. Kita menghadirkan Islam sebagai solusi atas permasalahan kehidupan

Apa sikap HTI jika solusi yang ditawarkan, termasuk khilafah, tidak diterima?

Ya tidak masalah. Kita hanya mengemban pemikiran. Hanya mengembang ide atau pendapat. Untuk menerima tidak itu kita tidak bisa memaksa. Dakwah yang kita tempuh itu ada dua, yakni fikriah, yaitu murni menyampaikan pemikiran, dan yang kedua itu lautfiah, yakni tidak menggunakan cara-cara kekerasan. Makanya kemudian tuduhan-tuduhan makar, itu mau makar pakai apa. Bahkan kita tidak ingin sejengkal tanah yang lepas dari Indonesia.

Apa pendapat HTI tentang Pancasila?

Pancasila kita sebut dengan cita-cita, nilai-nilai yang ingin diwujudkan saat negara ini dibentuk. Tapi faktanya sampai saat ini kan tidak terwujud. Keadilan sosial, persatuan, adil beradab, kan juga terancam. Jadi menurut saya pribadi ini sebatas nilai yang menjadi tujuan. Tapi melihat perjalanan bangsa ini, kita melihat upaya untuk mencapai tujuan itu tidak tercapai. Dulu dengan komunisme, lalu di orde baru melalui kapitalismenya, dan sekarang neo-liberisme. Jadi sebenarnya tawaran kita dengan syariat Islam ini yang akan bisa mewujudkan.

Apa pendapat HTI tentang demokrasi?

Salah satu yang kita kritisi keras adalah demokrasi itu sendiri. Bagian mana yang kita kritik? Bahwa kedaulatan diserahkan pada manusia yang dia punya kebenarannya masing-masing, atau kelompoknya. Jadi ketika hukum itu diserahkan kepada masyarakat (melalui perwakilannya di DPR), pasti masyarakat itu sendiri dengan kelompoknya merasa bahwa hukum atau aturannya yang paling baik dan paling benar. Di dalam Islam, kedaulatan itu bukan di tangan umat (manusia), tapi di tangan syariat Allah.

(*)


KOTAK KOMENTAR

Wawancara Lainnya 

on wartablora.com 

News / Peristiwa

Kapolres Kembali Ingatkan Netralitas Anggota

Rabu Pahing - 17 Januari 2018 - 23:14
News / Peristiwa

Cegah Difteri, Anggota Polres Divaksin

Rabu Pahing - 17 Januari 2018 - 23:04
News / Seremoni

9 Kapolsek Dirotasi

Selasa Legi - 16 Januari 2018 - 20:07
News / Seremoni
Sosialisasi DIPA Polres

Kapolres: Jangan Bermain-main dengan Anggaran

Senin Kliwon - 15 Januari 2018 - 20:06
News / Peristiwa

Diduga Korsleting di Aki, Jazz Bidan Pule Terbakar

Senin Kliwon - 15 Januari 2018 - 19:23