BERITA Wawancara 2995
Views

Wawancara Bambang Tri Mulyono, Penulis Jokowi Undercover

Rabu Legi - 26 April 2017 | 19:22 bbwi
Foto: Gatot Aribowo

Bambang Tri Mulyono, penulis Jokowi Undercover.

Nama Bambang Tri Mulyono tiba-tiba jadi populer sejak awal tahun 2017. Ia menulis Jokowi Undercover yang ia cetak dalam sebentuk buku dan diterbitkan sendiri. Buku yang ia terbitkan itu ia klaim sebagai antitesa dari buku Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi, yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama menggandeng penulis Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti.  Ada 3 kolonel tentara yang telah memesannya. Satu bahkan telah membayar di muka. Sempat ditanyakan oleh Presiden Joko Widodo melalui Oesman Sapta Odang ke Bambang Sadono—kakak dari Bambang Tri, apa tujuan dari Bambang Tri menulis buku tersebut. Belakangan, Bambang Tri ditangkap dan akhirnya disidangkan di Pengadilan Negeri Blora sejak 20 Maret 2017. Dakwaannya pada penyebaran informasi yang menimbulkan kebencian pada suku, agama, dan ras.

Wartawan wartablora.com, Gatot Aribowo, berkesempatan mewawancarai Bambang Tri Mulyono di Lapas Blora pada Rabu (25/4/2017), atau sehari sebelum ia bersidang mengajukan saksi dan ahli yang meringankan di PN Blora pada Kamis (26/4/2017). Berikut petikan wawancaranya:

Apa motif anda menulis Jokowi Undercover?

Saya ini kan penulis. Jadi kalau saya melihat fakta yang menarik, tentu saya punya keinginan untuk menyajikan kepada publik. Itu saja sebenarnya. Secara umum itu. Saya merasakan mendapatkan fakta yang perlu diketahui publik, ya saya tulis. Itu saja.

Kalau ada secara umum, ada secara khususnya. Apa itu?

Serangan-serangan pendukung Jokowi yang di facebook itu, terhadap calon favorit saya. Saya merasa perlu membantah itu.

Ada politiknya?

Ya. Tapi sebagai penulis, secara umum ya itu tadi. Saya merasa itu informasi menarik.

(Bambang Tri mulai menyusun Jokowi Undercover di Pemilu Presiden 2014. Saat itu pertarungan Pilpres antara Joko Widodo dengan Prabowo. Bambang memfavoritkan Prabowo)

Informasi itu awalnya dari mana?

Tentu dari sumber yang saya sebutkan di buku itu, namanya Faisal. Wawancaranya saya tulis lengkap dalam buku itu. Informasi yang paling penting adalah ia menyebutkan bahwa ibu Sujiatmi itu ibu tiri Pak Jokowi.

Faisal orang mana?

Orang Bekasi. Saya kenalnya dari facebook. Ketika wawancara saya langsung ke Bekasi (menemui Faisal) di rumahnya. Saya konfirmasi. Tidak cukup itu, saya ajak ke tempat lain, ke Pak Hendrajit. Pak Hendrajit ini dulu wartawan Detak. Sekarang menjadi pengurus Global Future Institute.

(Saat di rumah Hendrajit, Faisal menyakinkan ke Bambang Tri akan memberikan kesaksian di pengadilan jika nantinya ada yang mempermasalahkan publikasi buku tersebut. Belakangan Faisal dikatakan Bambang Tri sebagai pengkhianat, dan merasa dijebak lantaran Faisal tak mau menjadi saksi dalam persidangannya)

Anda percaya begitu saja dengan informasi yang diberikan Faisal?

Percaya. Nyatanya dia kenal dengan yang namanya Hartati. Materinya (juga) menyakinkan. Dia telepon Hartati di hadapan saya dengan diperdengarkan ke saya melalui pengeras suara. Bahwa dia (Hartati ini) memang familinya ibu Sujiatmi. Kemenekannya ibu Sujiatmi. Hartati itu anaknya Hadi Sumarto, yang kalau gak kakak ya adik dari Ibu Sujiatmi. Hadi Sumarto itu keluarga terpandang, merupakan bos tenun. Akan tetapi dalam riwayat resminya gak ada itu. Tak hanya itu, Faisal juga punya saksi. Saya lupa namanya, yang ia mengkonfirmasi bahwa Faisal memang kenal keluarga ibu Sujiatmi. Hartati ini juga dulu calon istrinya Faisal, pernah pacaran sama Faisal sewaktu kuliah. Tapi akhirnya tidak jadi menikah karena orang tua Faisal tidak setuju. Dulu Faisal di UGM, Hartati di AUB Surakarta. Hartati itu rumahnya di Pedan, Klaten.

Apa yang anda lakukan untuk konfirmasi ke Ibu Sujiatmi?

Ini banyak orang yang salah paham. Buku saya ini kan antitesis. Jadi tesisnya sudah mereka tulis sendiri, lewat buku riwayatnya Ibu Sujiatmi yang resmi itu. Bukunya berjudul Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi.  Itu yang saya bantah. Jadi buat apa saya melakukan konfirmasi ke dia? Dia sudah memberikan pernyataan, "saya ibu kandungnya Jokowi. Saya yang melahirkan Jokowi di RS Brayat Minulya." Jadi dia (Ibu Sujiatmi) tidak pernah punya riwayat sebelumnya. Faisal menyakinkan ke saya bahwa Ibu Sujiatmi itu sudah pernah kawin sebelum menikah dengan bapaknya Jokowi itu. Dia (Faisal) kenal siapa nama suami pertamanya ibu Sujiatmi. Dan itu dibenarkan oleh kakaknya Hartati, namanya Meri.

Jadi anda belum ketemu sendiri dengan Ibu Sujiatmi?

Untuk apa ketemu?

Jadi semua keterangan dari Faisal itu anda tuangkan semua dalam buku?

Itu sebagian. Semua omongan Faisal itu saya anggap sumber primer. Ada saksi yang mengalami sendiri. Tentu data yang lain sumbernya banyak, antara lain buku Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi itu. Ibu Sujiatmi itu misalnya mengatakan, "rumah saya pernah digeledah tentara. Karena saya dan suami saya dicurigai sebagai simpatisan PKI. Tapi tidak ketemu bukti maka tidak ditahan." Bagi saya kalimat ini, belum ketemu bukti bukan berarti dia bukan simpatisan. Kedua, ini cocok dengan informasi intel tentara. Salah satu tentara yang saya sebut tadi, itu punya ajudan Paspamres. Kolonelnya ini punya ajudan. Menurut Kolonel itu, ajudannya itu dulunya Paspamres. Sewaktu jadi Paspamres, Ibu Sujiatmi pernah ngomong ke dia (ajudannya Kolonel), "saya ini benci tentara. Dulu yang membunuhi sanak famili saya itu tentara." Tidak saya tulis (dalam Jokowi Undercover) memang karena itu informasi tertutup. Tapi membuat saya yakin bahwa ini benar. Kolonelnya sendiri yang bilang yang akhirnya pesan buku saya ini.

(Dalam wawancara ini, Bambang Tri menyebut ada 3 perwira TNI, tak hanya dari Angkatan Darat, yang memesan buku Jokowi Undercover. Bambang meminta untuk namanya off the record, kendati pewawancara akhirnya diberitahu nama-namanya. Dua nama yang disebut telah ketemu dalam pencarian di situs pencarian terbesar di Google, sementara satu nama tidak ketemu. Tiga tentara ini berpesan untuk tidak disebut dalam persidangan)

 Jadi anda mempertahankan kebenaran dari isi buku anda?

Sangat sekali. Silakan siapa yang mau menguji materinya. Dalam persidangan saya dituduh tidak konfirmasi. Empat kali saya konfirmasi ke Pak Jokowi. Pertama, bukunya saya kirim lewat ekspedisi, ke alamat sekretariat negara. Kedua lewat facebook saya, lewat surat terbuka. Ketiga melalui polisi Polda yang meminta klarifikasi ke saya, jika Pak Jokowi punya data yang dapat membantah akan saya muat dalam buku saya. Kalau tidak punya, saya akan lindungi dengan seolah-olah punya, lalu buku saya tarik (dari peredaran) demi kepentingan nasional. Keempat, melalui Bambang Sadono, kakak saya sendiri.

(Bambang Sadono adalah anggota MPR RI, merupakan kakak kandung dari Bambang Tri. Dalam wawancara, Bambang Tri mengungkapkan, kakaknya pernah memanggilnya ke Semarang untuk ditanyai maksud menulis Jokowi Undercover di minggu ke-4 Desember 2016, beberapa hari setelah bedah buku Jokowi Undercover di Magelang pada 19 Desember 2016. Menurut Bambang Tri, Bambang Sadono diminta Oesman Sapta Odang—sekarang Ketua MPR RI—yang dipesan sama Jokowi untuk menanyai apa maunya Bambang Tri. Masih menurut Bambang Tri, di rumah Bambang Sadono, Bambang Tri diperdengarkan telepon antara Bambang Sadono dengan Oesman Sapta Odang. Dalam pembicaraan jarak jauh itu Bambang Tri minta konfirmasi ke Jokowi tentang isi bukunya. Bila Jokowi tidak punya data untuk membantah apa yang ditulis Bambang Tri, Bambang Tri akan melakukan penarikan buku dan cukup diakui kebenaran apa yang ia tulis. Pembicaraan itu dilakukan sebelum adanya penangkapan Bambang Tri. Setelah dari Semarang, Bambang Tri pulang ke Blora yang kemudian dilakukan penangkapan oleh polisi

Pertanyaan terakhir, anda yakin akan lolos dalam persidangan anda nanti?

Melihat materi persidangan, saya yakin JPU akan menuntut bebas.

Menuntut bebas?

Iya. Karena saya juga punya bargaining, nanti saya sampaikan dalam persidangan. Kalau saya tidak dituntut bebas, saya akan membuat tiga laporan polisi sekaligus tentang Pak Jokowi. Satu: pemalsuan syarat dia sebagai (calon) presiden, dua: tentang surat nikah dia yang saya temukan indikasikan palsu, dan tiga: buku itu, Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi, yang saya laporkan Ibu Sujiatmi. Tapi kalau saya dituntut bebas, saya tunda ini sampai selesai Pilpres 2019. Jadi tidak mempengaruhi Pak Jokowi. (*)


KOTAK KOMENTAR

Wawancara Lainnya 

on wartablora.com 

Pendidikan / Peristiwa

Siswanto Sebar 999 Amplop THR

Selasa Pon - 12 Juni 2018 - 20:34
News / Hukum & Kriminal
Pergantian Jabatan di Jajaran Polres Blora

Wakapolres, Kasatlantas dan 3 Kapolsek Diganti

Minggu Wage - 03 Juni 2018 - 19:55
Budaya / Even
Rangkaian Hari Pancasila di Sedulur Sikep Klopoduwur

Dari Buka Bersama Hingga Ritual

Jumat Pahing - 01 Juni 2018 - 19:11
News / Seremoni

Polres Blora Gelar Donor Darah

Selasa Kliwon - 15 Mei 2018 - 18:44